.

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

PROFIL BUPATI ENDE

LPSE Kab. Ende

SiRUP Kab Ende

TAMAN NASIONAL

Informasi Masa Tanam

webgis

Gambar
Ketua DPRD Ende Lantik Anggota DPRD Hasil PAW
Selasa, 05 Oktober 2021
Ketua DPRD Kabupaten Ende, Fransiskus Taso, S. Sos melantik dan mengambil sumpah, Syukri Abdullah dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI)... Selengkapnya...
Gambar
110 Mahasiswa STIPAR Diwisuda
Selasa, 05 Oktober 2021
Sebanyak 110 orang mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa (STIPAR) Kabupaten Ende diwisuda. 95 orang lulus dengan predikat memuaskan dan 15... Selengkapnya...
Gambar
Semua Pihak Diajak Kerjasama Berantas Perdagangan Manusia
Senin, 04 Oktober 2021
Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) atau manusia masih berlangsung sampai saat ini, oleh karena itu diperlukan kerjasama yang harmonis dan... Selengkapnya...
Gambar
Bupati Ende Launching Program Pemberdayaan Tenun In Ende
Jumat, 01 Oktober 2021
Bupati Ende, Drs. Djafar Achmad melaunching program pemberdayaan Tenun Ikat Ende di Kelurahan Rewaranga, Kecamatan Ende Timur, Kabupaten Ende, Kamis... Selengkapnya...
Gambar
KEPALA DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN ENDE BERI ARAHAN KEPADA 54 KEPALA SEKOLAH BARU
Jumat, 01 Oktober 2021
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende Matildis Mensi Tiwe, SE, M. Akt, adakan pengarahan kepada 54 Kepala Sekolah, yang terdiri dari... Selengkapnya...

ROBERTUS UBAH SAMPAH MENJADI RUPIAH

PDF

Berawal dari Keprihatinan Terhadap Lingkungan, Robertus Riwu yang sekarang Menjabat sebagai Kepala Desa Woloara Kecamatan Kelimutu Kabupaten Ende merubah unggukan sampah – sampah dari limbah plastik yang banyak tersebar dan mencemari di desanya menjadi pafing blok atau batako.

 

Ketika ditemui pada saat penutupan Festival Kelimutu, Jumat (17/9/2021), di Museum Tenun Ikat, Robertus menceritakan awal perjalanan hidupnya yang berkaitan dengan proses pembuatan pafing blok atau batako yang terbuat dari limbah sampah plastik.

 

Ia menceritakan ketika berpetualang di Kota Gudeg Yogyakarta, Robertus melihat sampah yang bisa dirubah menjadi batako. Ispirasi yang didapat dari kota Yogyakarta coba diterapkannya ketika dia kembali di desanya.

 

Apa yang didapatkannya dari Yogya benar diterapkannya sekembali di desanya yang memang saat itu banyak terdapat limbah sampah plastik. Sampah plastik dikumpulkannya lalu di olah menjadi batako.

 

Tindakan yang dilakukan Robertus tidak saja membersihkan lingkungan tempat tinggalnya yang bebas dari limbah sampah plastik namun juga mendatangkan pundi – pundi rupiah.

 

Sesuai penuturannya Batako yang terbuat dari limbah sampah plastik di jual dengan harga Rp 5000 per buah.

 

Saat ini memang belum banyak warga dari luar desa yang memesan batako hasil olahan Robertus, namun untuk sementara bisa memenuhi kebutuhan batako bagi warga desa Woloara.

 

Robertus mengakui bahwa produksi batako yang terbuat dari limbah plastik belum terlalu banyak karena keterbatasan peralatan kerja yang lebih baik. Oleh karena itu dia mengharapkan dukungan dari pemerintah agar usahanya bisa berkembang.

 

“Saya berharap pemerintah mau mendorong dan memberi bantuan alat kerja pembuatan batako karena selama ini kami masih memakai alat tradisonal,”harapnya

 

Ia menambahkan bahwa produksi yang dihasilkan dari limbah sampah plastik tersebut setidaknya telah memberikan peluang usaha di desanya dan mampu memberikan pendapatan bagi keluarganya. (ria prokompim).

Addthis
You are here