.

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

PANCASILA, DARI ENDE MENUJU INDONESIA

Berbicara tentang Bung Karno, tidak terlepas dari Indonesia dan Pancasila. Dan tentang sejarah Pancasila tidak terlepas dari periodisasi kehidupan Bung Karno pada masa pembuangannya selama empat tahun (1934 – 1938) di Ende, Flores Pos, Nusa Tenggara Timur. Di bawa pohon sukun di Taman Rendo Ende, Bung Karno merenungkan Pancasila. Maka pantaslah para tokoh Masyarakat di Ende berpendapat bahwa ide Pancasila berasal dari Ende menuju Indonesia. Hal ini bergema dalam nada historiknostalgik dalam Diskusi Kelompok Terpadu Fasilitasi Produksi Flim Sukarno di Hotel Safari Ende, Sabtu (13/7).

 

Serpihan peristiwa dan fase penting dalam tarikh panjang perjuangan Bung Karno sebagai founding father selama masa pembuangan di Ende diungkapkan oleh sejumlah tokoh pendidik, dalam diskusi kelompok terpadu ini.

 

Tobias Tonda, seorang tokoh pendidik, dalam diskusi itu mengatakan bahwa selama masa pembuangannya di Ende, Bung Karno dengan cara-caranya dapat bergaul dengan setiap lapisan masyarakat termasuk kaum religus. Bung Karno mendirikan kelompok tonil-tonil ciptaannya di gedung Immaculata Ende. Sukarno juga adalah seorang seniman.

 

Peserta lain, Amatus Peta , guru dan pendidik mengatakan bahwa Bung Karno adalah seorang yang berpribadi integral. Seorang muslim yang taat, nasionalis, intelektual, dan berbudaya. Beliau selalu berpikir dalam konteks yang luas tentang keanekaragaman masyarakat Nusantara. Hal ini terungkap dalam kelima butir pancasila. Amatus juga menegaskan bahwa “benar jika saya katakan ide Pancasila itu berasal dari Ende menuju Indonesia.”. Alasannya, lanjut Peta, jauh sebelum lima butir pancasila dirumuskan, masyarakat adat Ende-Lio sudah mengenal lima nilai hidup yaitu tubu musuh ( simbol wujud tertinggi ), lewondo (tempat sesajen), kanga (tanda persatuan), keda (tempat musyawarah untuk mencapai kesepakatan) dan sao ria (simbol keadilan social). Tidak mustahil, dalam empat tahun pergaulannya dengan masyarakat Ende, Bung Karno berkenalan falsafah lokal ini. Hal ini munkin juga mempengaruhi permenungan Bung Karno dalam perumusan Pancasila. Lambang-lambang yang di pakai dalam tiap butir Pancasila juga tidak asing lagi untuk masyarakat Ende.

 

Senada dengan peserta diskusi yang lain, John Dami Mukese menambahkan bahwa relasi Bung Karno dengan para misionaris Serikat Sabda Allah ( SVD) di Ende pada masa itu dan yang semuanya berkebangsaan Belanda juga turut memberi kontribusi yang sangat berarti dan bernilai. Khusus persahabatannya dengan P. Yohanes Bouma SVD yang adalah Regional Sunda Kecil waktu itu dan Pater Geradus Huijtink SVD yang adalah Pastor Paroki Katedral, sangat membantu Bung Karno dalam menemukan bentuk dan rumusan yang lebih konkret dari dasar negara yang sedang diperjuangkannya.

 

Diskusi Kelompok terpadu ini diselenggarakan oleh Tim Riset PT Cahaya Kristal Media Utama yang memenangkan lelang program kegiatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk memproduksi Film Seokarno yang akan mengambil setting waktu periodisasi kehidupan Seokarno selama masa pembuangan di Ende. Rita Siregar, ketua umum dari Kemendikbud mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan “memproduksi film nasional Seokarno yang mengandung nilai budaya,kearifan lokal, demi pembangunan karakter bangsa, khususnya agar generasi muda menjadikan Seokarno sebagai figure teladan”.

 

Hadir dalam diskusi ini selain tokoh masyarakat Ende yang diundang, juga unsur Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan(Kemendikbud) pusat yang di wakili oleh Mba Rita Siregar, tim riset dari Institut Bung Karno, Sutradara Viva Westi, Produser Catur Puja Sulistyawan, bersama belasan kru pembuatan film Seokarno.

 

Tujuan dari diskusi ialah menjaring informasi, data dan asupan untuk melengkapi riset yang akan menjadi acuan dan materi membangun ide dalam proses produksi Film Soekarno.”Diskusi ini bukan untuk menyimpulkan sebuah kebenaran historis tetapi lebih merupakan sebuah penelusuran, “ demikian Bra Baskoro, Manajer Riset yang sekaligus bertindak sebagai moderator dalam diskusi itu.

 

Mba Viva Westi, sutradara film, menjelaskan bahwa film ini akan mengangkat nilai-nilai lokal dan moral Pancasila dalam sosok dan konteks hidup Bung Karno di Ende. “Delapan puluh persen lokasi syutingnya ada di Ende dan tujuh puluh persen pelakonnya adalah orang-orang lokal. Sesudah Lebaran akan diadakan Casting di Ende untuk memilih para pemeran lokal”, lanjut Mba Viva. (Yohanes b. Ebang/Editor:John Dami Mukese)


Sumber : Flores Pos

Addthis
You are here