.

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

LEPEMBUSU-KELISOKE MENUJU KECAMATAN HOLTIKULTURA

ANGGUR MERAH MEMBUAT TOMAT JADI PRIMAD0NA


Jika sebelumnya Lepembusu hanya dikenal sebagai suatu wilayah dataran tinggi dengan topografi berbukit-bukit, dikelilingi lembah bersuhu rata-rata 18 derajat celsius pada musim penghujan. Sedangkan pada musim panas seperti bulan April hingga Oktober dalam tahun, suhu minimum pada malam hari rata-rata mencapai 16 derajat celsius bahkan di bulan Juli dan Agustus suhu bisa mencapai 14 derajat celsius. Kini Lepembusu sudah berubah rupa walau suhu dingin tetap menjadi ciri khasnya. Perubahan itu mulai dirasakan setahun sebelum daerah ini diresmikan menjadi kecamatan penuh, dengan nama Kecamatan Lepembusu-Kelisoke. Yang merubah wajah Kecamatan Lepembusu-Kelisoke adalah perubahan pola sikap masyarakatnya dari predikat masyarakat tertinggal dan terpencil menjadi masyarakat dengan ethos kerja keras. Masyarakatnya yang tersebar di 13 Desa bertekad mewujudkan impian menjadikan Lepembusu–Kelisoke sebagai kecamatan Holtikultura.Tekad dan kerja keras mereka bukan sebatas bicara tetapi ditunjukan dengan aktifitas nyata. Lahan yang adapun dimanfaatkan secara optimal untuk membudidayakan tanaman holtikultura berupa tomat, wortel, cabe, kol dan sawi, seperti yang disampaikan Kepala Desa Nggumbelaka Yohanes Don Bosco Rega kepada Humas Pemkab Ende, Jumat 22-02-2013.

           

Tepatnya tahun 2008 yang lalu, warga ibu kota kecamatan di Desa Nggumbelaka mengawali niat mereka dengan menanam tanaman holtikultura. Pemanfaatan lahan tidur ini menggunakan teknologi pertanian sederhana, kata Kepala Desa. “Pada awalnya di tahun 2008, warga Nggumbelaka hanya memanfaatkan lahan seluas 6 ha. Tapi saat ini, setelah 4 tahun berjalan terjadi peningkatan luas lahan menjadi 45 ha. Peningkatan paling signifikan terjadi pada tahun terakhir ini setelah ada kucuran dana program anggur merah gubernur NTT, Frans Lebu Raya”, jelas Kepala Desa. Dari 45 Ha tanaman hortikultura itu, lanjutnya; 32,5 Ha adalah lahan yang digunakan untuk budi daya tanaman tomat. Sisanya tanaman cabe 4 Ha, sawi 2 Ha, kol 2 Ha, sedangkan yang lainnya untuk tanaman kacang-kacangan sejumlah 5,5 Ha.

           

Dalam 1 tahun, kata Don Bosco Rega, warga yang menanam tomat bisa memanen sebanyak 3 kali dengan pola tanam berkesinambungan. Ini dimaksudkan agar panen tomat terus berkelanjutan dan tidak putus dalam setahun. Untuk seperempat Ha, para petani menanam 6.000 anakan dengan hasil panen 400 ember ( 1 ember 12 kg) dan dihargai rata-rata Rp.90.000/embernya. Untuk 1 kali panen para petani akan mendapatkan hasil 4.800 kg tomat. Dengan demikian bila dirupiahkan maka dalam sekali panen petani Nggumbelaka akan mendapat hasil sebanyak Rp.36.000.000,- Dengan demikian untuk 1 tahun 3 kali panen, petani tomat Desa Nggumbelaka bisa menghasilkan 14.400 kg dengan nilai rupiah Rp.108.000.000,-

           

“Ini baru tomat, belum lagi tanaman kentang dan sayur-sayuran serta tanaman umur panjang lainnya.” Kata Don Bosco Rega dengan bangganya. Ia menambahkan, masyarakakat desa Nggumbelaka sungguh sangat berterima kasih kepada Gubernur NTT Frans Lebu Raya yang sudah menelorkan program anggur merah. Sebab semua usaha tanaman holtikultura di desanya menggunakan dana anggur merah didukung dengan upaya sendiri.

           

Salah seorang petani tomat di Desa Nggumbelaka,Kecamatan Lepembusu Kelisoke, Martina kepada Humas Pemkab Ende menjelaskan, sejak ia menerima dana bantuan program anggur merah tahun 2012 yang lalu, Nampak ada peningkatan pendapatan keluarga dari hasil tanaman tomat yang ia kelola. Jika sebelumnya ia hanya mengandalkan pendapatan keluarga dari hasil sayuran yang ditanam secara alami seperti labu jepang, sekarang ia justeru mendapat peningkatan penghasilan rata-rata sekali panen mencapai Rp.10.000.000,- “ Saya bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan ilham kepada bapak Gubernur Lebu Raya sehingga ada program anggur merah ini.Saya dengan hasil jual tomat sudah bisa kasi sekolah anak saya sampai jadi mahasiswa” ungkap mama Martina dengan nada penuh syukur. Tolong Bapak sampaikan salam saya untuk Bapak Gubernur.Kami disini selalu mendoakan Bapak Gubernur agar selalu sehat dan diberi kekuatan untuk memimpin NTT ini, tukas Martina.

 

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan da Peternakan Kabupaten Ende, Aleksander Marianus saat dimintai tanggapannya mengatakan, apa yang sudah dilakukan oleh masyarakat tani di Desa Nggumbelaka itu harus diberi apresiasi karena secara nyata telah menunjukan hasil yang positif. Pihaknya dari Dinas teknis melalui BPP setempat akan melakukan pendampingan secara berkesinambungan, terutama dalam upaya meningkatkan produksi tanaman tomat. Sedangkan Dinas Perindag, menurut Kepala Dinasnya Yoseph Woge, melakukan upaya pengolahan hasil tanaman tomat menjadi saus tomat khas Lepembusu-Kelisoke. Proses pembuatan hingga pemasarannya terus didampingi. Saat ini kata Yoseph Woge, hasil pengolahan tomat menjadi saus tomat sudah sampai pada pemeriksaan dan uji laboratorium oleh Balai POM Kabupaten Ende.jika pengurusan di Balai Pom sudah selesai maka produksi saus Lepembusu-Kelisoke siap diproduksi dan dipasarkan dalam wilayah Kabupaten Ende dan Kabupaten tetangga lainnya. Dan tidak menutup kemungkinan pelebaran sayap pemasaran sampai ke luar pulau Flores, ungkap Yoseph Woge.-

 

Kepala Desa Nggumbelaka Yohanes Don Bosco Rega mengatakan, program anggur merah yang sudah dilaksanakan dan dirasakan masyarakat desanya mampu memberi daya ungkit peningkatan ekonomi keluarga. Kedepannya ia berharap agar program anggur merah terus berkelanjutan dengan menambah jumlah Desa penerima dalam sebuah kecamatan dan meningkatkan jumlah dananya.(elsa-Humas pemkab.Ende)

Addthis
You are here