.

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

TERMINAL PENUMPANG BANDARA AROEBOESMAN DIRESMIKAN

Terminal penumpang hasil renovasi dan perluasan Bandara H. Hasan Aroebuesman Ende, Jumat (23/3) di Ende.diresmikan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Penghubungan Udara Kementrian Perhubungan RI, Herry Bakti, Acara peresmian tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Dirjen Pehubungan Udara, dan pengguntingan pita oleh Bupati Ende Don Bosco M.Wangge.


Usai penandatanganan dan pengguntingan pita, Dirjen Perhubungan Udara bersama Bupati Ende, Wakil Bupati Ende Achmad Mochdar, Ketua Pengadilan Negeri Ende Achmad Petensili, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Marselinus Petu, dan sejumlah anggota DPRD Ende, serta sejumlah undangan lainnya meninjau berbagai fasilitas baru terminal tersebut.


Kepala Bandara Aroeboesman, Satimin dalam laporannya mengatakan dana pembangunan terminal penumpang baru Bandara Aroeboesman bersumber dari dana APBN murni Tahun Anggaran 2011. Pembangunan terminal penumpang ini dilaksanakan selama 180 hari kerja dan selesai tepat waktu. Pengerjaan sudah selesai sejak bulan Desember 2011. Namun, peresmiannya baru bisa dilakukan pada bulan Maret 2012 karena sejumlah fasilitas pendukung seperti AC, kursi dan lainnya baru bisa dipasang pada tahun 2012.


“Tujuan kita membangun terminal bandara yang baru ini adalah untuk meningkatkan pelayanan transportasi udara dari dan ke Ende. Untuk itu, fasilitas pendukung bandara yang memadai sangat dibutuhkan. Makanya, tak elok kalau gedungnya baru, tapi kursi dan asesoris lainnya masih yang lama,” kata Setimin.


Bupati Ende, Don Bosco M. Wanggepada kesempatan mengatakan transportasi merupakan salah satu aspek penting dalam memperlancar roda pembangunan. Kehadiran bandara yang memadai dapat mendorong pertumbuhan daerah seiring dengan peningkatan taraf hidup masyarakat Kabupaten Ende. Kehadiran jasa transportasi yang andal, berkemampuan tinggi, aman dan nyaman akan menggerakkan dinamika pembangunan. Dengan demikian, mobilisasi manusia, barang dan jasa akan terus berkembang.


“Ende mulai keluar dari isolasi keterbelakangan sejak dibukanya Bandara Perintis Aroeboesman tahun 1974. Saat itu pesawat pertama yang mendarat adalah jenis cassa dengan kapasitas 12 orang penumpang. Saat itu, pesawat hanya masuk sekali dalam seminggu. Ketika itu saya masih SMA Syuradikara. Kami semua di minta untuk ikut menyambut kehadiran pesawat pertama di Ende, “ kata Bupati Don.


Bupati Don menambahkan, seiring perkembangan baik lebar maupun panjang landasan pacu, saat itu Bandara Aroeboesman menjadi Bandara Kelas III. Bandara Aroebosman saat ini di darati pesawat Foker 50 dan BAE 146. Bupati Don juga menjelaskan, pembangunan fasilitas pendukung Bandara Aroebosman tersebut menelan dana sebesar Rp3.009.400.000. “Semua paket pekerjaan telah di laksanakan dengan baik dan benar, sehingga sekarang kita nikmati,” Kata Bupati Don. Bupati Don meminta Dirjen Perhubungan Udara memperjuangkan peningkatan Bandara Aroeboesman agar ke depan bisa di darati pesawat berbadan lebar jenis Boeing 737.


Hal ini penting untuk memudahkan masyarakat Kabupaten Ende yang hendak ke pulau Jawa atau kota besar lainnya,yang selama ini harus malalui Bendara El Tari Kupang. Bupati Don pada kesempatan itu juga menyerahkan rekomendasi kepada Dirjen Perhubungan untuk kelanjutan pembangunan perluasan ruang tunggu VIP Bandara Aroeboesman Ende.


Sementara itu Dirjen Perhubungan Udara Kementrian Perhubungan RI, Herry Bakti, mengatakan bandara merupakan pintu gerbang bagi Kabupaten Ende. Sebagai pintu gerbang, kondisi bandara harus dapat menggambarkan kondisi Kabupaten Ende. Jika kondisi Bandara Aroeboesman baik, akan memberikan kesan yang baik pula terhadap Kabupaten Ende.Sebagai Kabupaten yang melahirkan pancasila, dan memiliki objek wisata yang unik, Danau Tiga Warna Kelimutu, Bandara Aroeboesman dapat mendukung pembangunan pariwisata dan perekonomian Kabupaten Ende. Terkait permintaan untuk peningkatan Bandara Aroeboesman agar bisa didarati Boeing, menurut Bakti, sangat tergantung pada pasar. Jika pasar memungkinkan, suatu saat hal itu bisa terwujud.


Mengenai biaya transportasi udara, Herry Bakti mengatakan pemerintah melalui Kementrian Perhubungan Udara, Dirjen Perhubungan Udara tidak akan menaikan biaya transportasi Udara di Indonesia. “ Setelah melakukan kajian dan perhitungan terkait kenaikan BBM bulan April mendatang, telah kita putuskan untuk tidak akan menaikan biaya tranportasi udara. Memang ada pengaruh di sana sini, tetapi itu kita akan berikan subsidi,” kata Herry Bakti.


Kondisi terminal Aroeboesman saat ini tampak lebih baik. Di pintu masuk telah di bangun gapura, jalan masuk sudah di bagi dua jalur, serta pengadaan fasilitas Kantor GSA masing-masing maskapai penebangan dan fasilitas umum lainnya. (adm,pt,florespos,humas setda_nd)             

Addthis
You are here