.

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

RSUD ENDE MILIKI DELAPAN DOKTER AHLI

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ende kini telah memiliki 8 orang dokter ahli. Empat diantaranya adalah dokter ahli penyakit dasar, dan empat lainnya lagi adalah dokter ahli untuk penyakit penunjang. Hal ini disampaikan Direktris RSUD Ende, dr.E.Yayik Pawitra Gati di ruang kerjanya, Kamis (8/3). Dr. Yayik menyebutkan, empat dokter ahli penyakit dasar itu, yakni ahli kebidanan, bedah, penyakit dalam, dan anak. Sementara penyakit penunjang, antara lain anastesi, mata, dan patologi clinik.

           

Yayik mengatakan, RSUD Ende terus membenahi diri untuk bisa menjadi rumah sakit utama rujukkan, demikian juga meningkatkan status menjadi rumah sakit tipe B. “Syarat untuk menjadi rumah sakit rujukan, yaitu SDM dan sarana-prasarana harus dikejar,”jelas Yayik.

 

Lanjut yayik, RSUD Ende juga tengah berupaya untuk melengkapi dengan mesin cuci darah. Sebab untuk cuci darah ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat, apalagi di Flores belum memiliki mesin cuci darah ini. “ Masyarakat yang membutuhkan cuci darah sebenarnya lumayan ada. Tetapi karena di RS tidak ada, sehingga masyarakat langsung berangkat ke Kupang atau ke Jawa untuk berobat disana,”ungkap Yayik. Untuk ruangannya, kata Yayik, telah disiapkan, tinggal dilengkapi peralatannya (mesin) dan sarana penunjangnya serta dokter ahli penyakit dalam sudah ada, siap dilatih untuk melayani masalah cuci darah tersebut.

 

Menyinggung soal persiapan manajemen untuk menjadikan RSUD Ende menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dari status yang ada unit teknis daerah, Yayik mengungkapkan, hal tersebut merupakan amanat undang-undang yang harus dijalankan di tahun 2012 ini bagi semua RS daerah. Menurut Yayik, manajemen telah menyiapkan semua dokumen administratif, tinggal menunggu penilaian dari tim penilai yang ditunjuk Bupati melalui sebuah Surat Keputusan (SK).

 

Lebih lanjut Yayik menegaskan, RSUD jadi BLUD bukan bertujuan untuk mencari profit, karena namanya RSUD adalah non profit. Tetapi yang ingin dicapai adalah bagaimana pelayanan RS dari sisi anggaran yang tidak ada hambatan. “Dana yang ada di RSUD kita kelola langsung, misalkan kebutuhan mendesak kita langsung tangani. Tidak seperti yang terjadi, harus ajukan permintaan ke Pemkab baru diberikan. Misalkan ada WC tersumbat, kita langsung tangani. Tetapi tentunya semua kegiatan di RSUD tetap ada pengawasan yang ketat,” kata Yayik.(adm,pt)

Addthis
You are here