.

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

BANYAK PPL TIDAK BETAH DI DESA

Camat Detusoko Ignas B.Kapo mengeluh soal para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang tidak betah menjalankan tugasnya di desa masing-masing di Kecamatan Detusoko. Camat Detusoko bahkan plesetkan PPL dengan istilah ‘’Pulang Pergi Lancar’’. Hal ini dikatakan Ignas Kapo, dalam Lokakarya Strategi Pengembangan Program Yayasan Tananua Flores di Aula Firdaus di Desa Nanganesa, Kecamatan Ndona, Sabtu (18/2). LokaKarya ini dihadiri Pater. Alex Ganggu SVD serta 100 peserta lainnya dari utusan Kelompok Tani, Gapoktan, Tokoh Perempuan dan Pemuda, Kepala Desa, Camat, BPD, Mosalaki, Tokoh Agama, serta Kepala BPP di wilayah dampingan Tananua di Kabupaten Ende.  

           

Ignas Kapo mengatakan, dari data yang dia miliki, masyarakat Detusoko telah memperoleh dana bantuan dari berbagai macam program pengentasan kemiskinan sebanyak Rp 30 miliar. Baik dari zaman Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) sampai dengan sekarang adanya program lain seperti Anggur Merah, PNPM dan berbagai program lainnya. ‘’ Dari semua program yang masuk di Kecamatan Detusoko, sampai sekarang masyarakat masih tetap miskin. Malah angka kemiskinan itu bertambah ,’’ katanya.

           

Menurut Ignas Kapo, salah satu sebabnya adalah tidak tuntasnya pendampingan. Setelah program selesai, tidak ada dampak bagi masyarakat. Begitu program selesai, semuanya juga bubar. Tidak ada kelanjutan untuk mempertahankan program tersebut. Semua program itu tidak satupun yang mengakar di tengah masyarakat.

           

Ignas Kapo juga mengatakan, selama ini PPL tidak betah di desa. PPL di Kecamatan Detusoko dinilainya sebagai petugas yang pulang pergi lancar. ‘’ Lebih aneh lagi, para PPL ini pergi terlambat mau pulang cepat. Tapi laporan ke kita lancar. Kami berharap PPL yang ditempatkan di desa tidak pulang pergi lancar seperti sekarang. Mereka mesti memiliki waktu yang cukup bersama petani di desa. Saya berharap, ini dapat menjadi perhatian Badan Ketahanan Pangan, Penyuluhan dan Pertanian ( BKP3 ) Kabupaten Ende dalam hubungan kemitraan yang sejajar,’’ katanya.

           

Sementara Kepala Desa (Kades) Mukureku, Agustinus Nggumbe meminta perhatian BKP3 terhadap PPL yang ditempatkan di desanya, Nggumbe mengemukakan, PPL yang bertugas didesanya merupakan tenaga harian lepas yang masa kontraknya habis pada satu musim tanam dan musim panen. Hal ini cukup menyulitkan warga Mukureku yang rata-rata adalah petani palawija. Nggumbe mengharapkan perhatian BKP3 untuk menempatkan PPL tenaga tetap.

 

Kepala BKP3 Kabupaten Ende, Albert Yani dalam kesempatan mengatakan, para penyuluh yang ditempatkan di desa tidak memiliki alasan untuk meninggalkan desa. Terutama pada bulan Oktober hingga Maret. Karena saat itu merupakan musim tanam dan panen. PPL harus ada di lokasi. Apa yang disampaikan Kades Mukureku dan Camat Detusoko akan menjadi perhatian BKP3. ‘’Kita berharap teman-teman PPL ini memiliki dedikasi yang tinggi terhadap tugasnya. Tidak ada alasan mereka tinggalkan tempat tugas pada bulan Oktober–Maret. Harus lakukan pandampingan full,’’ kata Yani.

 

Terkait PPL tenaga harian lepas yang dikeluhkan Kades Mukureku, Yani menjelaskan, sampai dengan saat ini ada tenaga PPL PNS, kontrak daerah dan tenaga harian lepas kontrak pusat. PPL THL kontrak pusat berjumlah 61 orang. “ Pada tahun 2011, PPL kontrak pusat sesuai dengan MoU dengan Pemerintah Daerah (Pemda), Pemerintah Pusat hanya menanggung biaya selama 8 bulan, dari Januari hingga Agustus. Sementara sisanya selama 4 bulan menjadi tanggungan Pemda Ende. Pemda Ende telah membayar seluruh biaya selama 4 bulan kepada PPL. Sementara untuk tahun 2012, pemerintah pusat tanggungan hingga bulan Oktober Sisanya selama November-Desember menjadi tanggung jawab Pemda, “ jelas Yani.

           

Addthis
You are here