.

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Uskup Agung Ende buka kembali gereja tua

Uskup Agung Ende buka kembali gereja tua thumbnail
Mgr Vincentius Sensi Potokota memegang parang yang biasa dipakai oleh tetua adat Bajawa, NTT

Sebuah gedung gereja berusia 50 tahun di Aimere, Ngada, NTT, dibuka kembali kemarin oleh Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota setelah direnovasi tiga kali.

Pembangunan Gereja St. Fransiskus Assisi dan St. Clara dengan luas 1.500 meter persegi itu menelan biaya 2,3 miliar rupiah. Dana ini berasal dari 6.038 umat paroki– yang mata pencaharian utama mereka sebagai petani dan nelayan serta para donatur.

Dalam homilinya selama upacara pemberkatan gereja itu, Uskup Agung Sensi mengatakan bahwa sebuah gedung gereja secara fisik dan teknis harus bermutu.

Ia yakin bahwa umat paroki telah bekerja keras untuk membangun gereja itu agar lebih mudah bagi mereka untuk membangun kenisah Allah.

“Dalam keterbatasan dan kelemahan,  kita coba berusaha  mengugkapkan komitmen iman  bahwa pembangunan kenisah Allah yaitu diri kita sediri, persekutuan umat adalah  sebuah tugas dan tanggung jawab,” kata uskup.

Pada upacara pemberkatan gereja itu juga diadakan penyembelihan seekor kerbau yang dilakukan secara simbolis oleh Uskup Agung Sensi.

Secara tradisional, penyembelihan seperti itu dipimpin oleh seorang ketua adat dan bertujuan untuk berterima kasih kepada para leluhur yang membuat pembangunan gereja itu bisa diselesaikan.

“Dalam adat Bajawa, pemotongan hewan ini untuk mengucap syukur dan persembahan kepada  para leluhur karena selesainya dibangun sebuah rumah adat yang biasanya dilakukan oleh tetua adat. Karena terkait bangunan gereja maka  pemotongan hewan yang secara simbolis dilakukan oleh uskup sebagai ungkapan syukur umat yang dipersembahkan kepada Tuhan,” kata Martinus Mada, sekretaris DPP paroki itu.

LINK: Archbishop reopens 50 year old church

Addthis
You are here