.

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Tiga Daerah di NTT Endemis Antraks

Waduh Tiga Daerah di NTT Endemis Antraks
MI/Faishol Taselan/rj

KUPANG--MICOM: Tiga daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) berstatus endemis bakteri antraks pada ternak, sehingga perlu mendapat penanganan secara serius.

Tiga daerah itu, yakni Sumba, Sabu, dan Flores, kini sedang dalam pengawasan dinas kesehatan setempat guna mengantisipasi bakteri antraks menyerang manusia.

Di Sumba, daerah endemis antraks ialah Kabupaten Sumba Timur dan Sumba Barat yang pernah punya sejarah antraks pada 2006. Antraks juga pernah menyerang ternak di Kabupaten Ende, Sikka, dan Ngada di Pulau Flores pada 2007 yang mengakibatkan sedikitnya 325 orang dirawat karena makan daging ternak yang terinveksi virus antraks.

Terakhir, pada Agustus lalu antraks menyerang ratusan ternak di Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua. "Di Sabu, kami menemukan 11 warga, termasuk balita, menderita antraks kulit karena mengonsumsi daging ternak kuda yang mati," tutur Kepala Seksi Penanggulangan Keadaan Darurat Kesehatan Dinas Kesehatan NTT dokter Theresia Sarlin Ralo di Kupang, Senin (10/10).

Ia mengatakan, semua penderita antraks kulit di Sabu telah diobati dan sembuh. Namun, tidak menutup kemungkinan kasus antraks terulang lagi. Pasalnya, penyakit itu dapat membentuk spora (bacillus anthracis) dan bertahan dalam tanah selama 25 tahun. Pada musim hujan, spora antraks muncul lagi lewat rumput. "Sehingga rumput yang dimakan ternak bisa saja terkena antraks," katanya.

Menurut Theresia, pihaknya telah melakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk tidak makan daging ternak yang mati karena antraks. Ternak yang mati karena terserang antraks memiliki gejala antara lain hidung, telinga, dan kulit binatang tersebut mengeluarkan darah. (PO/OL-01)

Addthis
You are here