.

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

PENANGANAN COVID-19 TERHADAP MAHASISWA WASPADA BOLEH TAPI JANGAN BERLEBIHAN

altAda ungkapan hati yang dilontarkan oleh para mahasiswa pelaku perjalanan sebanyak 27 orang dari Lombok menuju Ende- Flores- NTT, dimana apa yang mereka rasakan diharapkan pemerintah menerapkan kewaspadaan diperbolehkan, namun jangan sampai berlebihan. Hal ini diungkapkan oleh salah seorang perwakilan pelaku perjalanan dari Labuan Bajo menuju Ende, Nurminsuari Rotok Solor asal Adonara - Flores Timur, kepada endekab.go.id, di Stadion Marilongan-Ende, Jumad, 17 April 2020.

 

“Menurut saya kami pulang seperti ini bukan karena liburan atau karena tiket murah, karena kondisi kita sama, kami sebenarnya kasihan dengan keluarga kami begitu juga keluarga kasihan terhapan kami, jadi di NTT punya ketakutan bahwa mahasiswa yang datang ke NTT akan membawa Virus, otomatis, jadi tolong jangan berlebihan” kata Nurminsuari.

 

Menurutnya, disana (Jawa atau Lombok) kalau semua sudah di lock down semua perekonomian sudah mati, apalagi ekonomi orang tua pasti semua sulit. “kalau seandainya ada kebijakan pemerintah NTT untuk membiayai kehidupan kami mahasiswa disana, ya kami trima aja kami di lock down disana dan ini tidak ada, sehingga memungkinkan kami harus ambil keputusan, bahwa kami harus pulang dan ini adalah solusi, pintanya

 

Dirinya mengkisahkan juga, banyak teman-teman mengatakan bahwa kami lebih mementingkan isi perut dari pada membawa virus yang akan menyebar kepada keluarga atau masyarakat banyak di NTT. Tapi dalam menghadap covid-19 saja itu, represif, kebutuhan perut yang utama untuk meningkatkan imun tubuh dan kondisi tubuh harus fit.

 

“kita semua butuh makan, minum, standarisasi kehidupan, jangan sampai kita berlebihan menerapkan menimbulkan banyak ketakutan yang berlebihan bagi para perantau,”katanya, seraya meminta agar Pemerintah NTT juga masyarakat NTT, kita boleh takut berlebihan, karena bagi Nurminsuari jangan sampai nasib anak-anak yang dikorbankan atau jangan sampai mahasiswa di rantau sana atau orang-orang perantauan yang bekerja disana mereka tidak bekerja lagi karena semua sudah di lock down sudah ditutup semua. Jadi diharapkan pemerintah, keluarga dan orang tua memahami situasi kita semua saat ini.

 

Digambarkan Nurminsuari, dirinya dirinya datang dari Surabaya karena beliau melakukan Studi di Jogjakarta. “saya kuliah di Jogjakarta, naik dari surabaya menuju Lombok, di Lombok timur saya di karantina selama satu minggu, kami tanya ke temen-temen ada jadwal ka tidak, ketika teman-teman bilang ada dari Lombok ke Sumbawa, dan dari sumbawa ke menuju Labuan Bajo”ceritanya dan menambahkan bahwa disetiap perbatasan dilakukan pengecekan dan pemeriksaan terkait Covid-19. Periksaan dilakukan di Lombok-Sumbawa-Dompu-Bima-Sape-Labuan Bajo.

 

“kami tiba di Sape, tidak ada kapal karena ada pengumuman dari Pemerintah NTT, Kapal Feri tidak jalan dari tanggal 13 April dan pembatasan hingga tanggal 30 April tidak boleh ada penyebrangan kapal. Agar semua bisa pulang, maka kami dan teman-teman semua, yang senasip dalam perjalanan sedaratan Flores melakukan Video viral permohonan kepada Pemerintah Propinsi NTT untuk bisa pulang, agar kami dapat diterima untuk kembali ke daerah kami masing-masing di Flores, pintanya.

 

Hal yang sama, juga diungkap oleh Betirofida Dahlan Jabah, warga Desa Rapo Rendu Kecamatan Nangapanda kini berstatus mahasiswa dari Lombok. Dikisahkan, sebenarnya dirinya sudah empat tahun di Lombok, namun sering pulang balik karena lakukan penelitian skripsi.

 

“kemarin sejak pertama kali viral covid-19 saya pulang dulu kesini untuk melaksanakan penelitian skripsi, setelah itu saya balik lagi ke Lombok dengan keadaan disana sudah ada orang yang positip terjangkit covid-19,”kata Betirofida.

 

Dijelaskan, karena Covid-19 sudah mewabah artinya sudah dapat ditanggulangi, namun secara ekonomi semua harga barang sudah naik, maka perlu diwaspadai. “harap maklum kami anak kos apalagi anak mahasiswa, sumber keuangan hanya dari orang tua saja, oleh karena itu saya meminta orang tua saya untuk balik kembali, walau sebelumnya saya merasa cemas sih, karena kemarin saya ke Lombok saya pake pesawat dan saya minta balik kembali, karena sebagian besar sudah memilih untuk pulang,”katanya dengan alasan pulang supaya tidak terjangkit Covid-19, karena di Lombok sudah termauk zona merah.

 

Dikatakan Betirofida, ada beberapa kos yang berdekatan dengan dirinya sudah mulai terjangkit covid-19, sehingga sebelum dirinya kembali ke Ende, pihaknya sudah pernah dilakukan pemeriksaan. “waktu saya membaca beberapa gejala Covid-19, saya mengambil keputusan untuk melakukan pemeriksaan dan hasilnya adalah negatif, sehingga saat kembali kemarin dalam kondisi aman,’’pintanya, dan mengungkapkan kemarin pada saat penyebrangan dari Lombok ke Sumbawa, dan tempat lain selama perjalanan melakukan 6 kali pemeriksaan hingga tiba di Ende.

 

Betirofida berharap semoga Covid-19 cepat berlalu dan doa masyarakat Ende dan Flores umumnya, cukup untuk satu orang saja yang kemarin tersebut. “menjadi pelajaran untuk kita semua untuk stay dirumah, kita harus menghargai pemerintah dan pemerintah menghargai kita, dengan cara tetap megayomi dan tetap menggenggam kebersaan kita khususnya untuk warga Flores-NTT,”harapnya.

 

endekab.go.id-robiasrarepi

Addthis
You are here