.

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

TAMAN BACAAN PELANGI LAKUKAN SERAH TERIMA PERPUSTAKAAN RAMAH ANAK DENGAN 30 SEKOLAH

alt”Taman Bacaan Pelangi” sebuah yayasan sosial yang fokus dalam bidang pengembagan literasi, kemampuan membaca dan minat baca anak yang di Indonesia Timur, melakukan serah terima Perpustakaan Ramah Anak dengan 30 sekolah, bertepat di Aula kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende, Jalan Soekarno, Jumat (17/05/2019).

 

Founder ”Taman Bacaan Pelangi”, Nila Tanzil, pada sesi wawancara mengatakan, bahwa serah terima Perpustakaan Ramah anak yang dilakukan saat ini, merupakan bagian tindak lanjut dari beberapa program yang dilakukan oleh Taman Bacaan Pelangi di Kabupaten Ende.

 

Adapun beberapa program sekarang yang sudah dan sedang dijalani antara lain pertama; Mendirikan Perpustakaan. Di kabupaten Ende sudah ada 49 perpustakaan sekolah yang didirikan, yang lokasinya berada langsung di sekolah untuk mendekatkan perpustakaan dengan anak-anak. Mengenai gedung atau ruangan, lebih difokuskan pada sekolah yang sudah memiliki perpustakaan tapi sudah tidak berjalan, dan juga memanfaatkan ruangan-ruangan yang tidak difungsikan. Ruangan dan gedung dimaksud dilakukan renovasi dan diadakan perlengkapan pendukung seperti furniture, karpet, dan lain-lain, terutama buku-buku minimal 1.250 buah buku per sekolah. Kedua; Program pelatihan guru. Guru-guru termasuk kepala sekolah dan pustakawan, diberikan pelatihan tentang manajemen perpustakaan dan kegiatan membaca yang bisa dilakukan. Ketiga; Program Advokasi di Dinas Pendidikan di masing-masing daerah. Advokasi ini dalam bentuk pendekatan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk memasukan Jam kunjung perpustakaan dalam kurikulum sekolah. Ini bermaksud agar sekolah dapat menyesuaikan roster sekolah dengan cara memasukkan satu jam mata pelajaran per minggu untuk kegiatan membaca anak-anak di perpustakaan. Selain itu advokasi tentang adanya tenaga kepustakawan khusus untuk mengelola perpustakaan. Ketiga; Program bebas buta huruf. Hal ini disadari bahwa tingkat buta huruf paling tinggi berada di wilayah di Indonesia Timur. Program inalti dijalankan dalam bentuk memberi pengetahuan dan pelatihan bagi guru kelas rendah, supaya bisa mengetahui teknik cara melatih anak agar lebih cepat membaca, dengan pendekatan metode yang kreatif dan lebih menarik. Keempat; program pelatihan untuk orang tua selama setahun. Orang tua diarahkan dan dilatih bagaimana cara bisa menciptakan lingkungan rumah yang mendorong anak-anak untuk suka membaca.

 

Guru SDN Ende 5, Umi Eufrasia, S.Ag, salah satu peserta yang hadir, ketika diminta tentang kesannya, sangat mengapresiasi kehadiran “Taman bacaan Pelangi” di Ende terlebih khusus di sekolahnya. “Perubahan sangat terasa, bagaimana anak-anak yang dulu malas membaca sekarang menjadi rajin, karena dulu produk bukunya tidak menarik untuk mereka. Kalau sekarang buku-buku dari “Taman Bacaan Pelangi” lebih menarik karena telah membuat penjenjangan. Kalau kelas satu, buku berisikan cerita dengan gambar berwarna yang indah. Sering anak-anak saat pulang sekolah dan belum dijemput orangtuanya, mereka memilih menunggu dengan berada di ruang perpustakaan. Jadi budaya membaca sudah mulai ada karena membaca jadi kebiasaan mereka saat ini”, cerita ibu Umi.

 

Acara serah terima dimaksud dibuka resmi oleh Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende, Drs. Rapa Silvester, dan dihadiri oleh Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan dan para undangan lainnya.

 

 

DusRangga/DiskominfoEnde

 

 

Addthis
You are here