.

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

MENGINTIP MODEL DESAIN PENATAAN AREA LAMPU LIMA ENDE

altEnde, Vox NTT- Rencana penataan di area lampu lima Ende terus bergulir. Saat ini, sedang dilakukan tahap sosialisasi oleh desainer dari PT. Tata Guna Matra kepada ASN dan stakeholder.

 

Penataan ruas itu memang janji politik Bupati Marselinus Y.W. Petu dan Wakil Bupati H. Djafar H. Achmad pada pilkada 2018 lalu. Itu tertuang dalam visi besarnya, yakni membangun desa, menata kota.

Dilihat dari master plan, penataan ruang pada area itu dianggap cukup megah. Kawasan lampu lima dirancang bundaran air mancur. Untuk lebih estetika, pada area itu didesain model motif sekeliling.

altKepala Dinas PU, Fransiskus Lewang menuturkan, pada dasarnya semua pembangunan dirancang sedemikian rupa dengan tetap sesuai karakteristik daerah.

“Pada dasarnya sesuai dengan filosofi daerah. Kita menunjukan bahwa desain itu hanya ada di Ende,” ucap dia dalam acara sosialisasi di Lantai Dua Kantor Bupati Ende, Rabu (15/5/2019).

Selain lampu lima, area Monumen Pancasila juga ditata ulang. Di dalamnya, juga dirancang dengan kolam air serta tangga.

Sedangkan Monumen Pancasila dirombak total berbentuk piramida. Ada lima tiang berdiri tegak dan pada tiang tiga dipasang lambang Pancasila.

Kemudian di depannya dibangun tembok secara keseluruhan. Ada juga sebagian ditanam rumput agar monumen itu dilihat cantik.

Unik lagi, dalam desain itu nanti dibangun tempat selfi bagi pengunjung. Tempat itu dirancang menggunakan baja, dilengkapi dengan tiang.

Tempat selfi itu, akan dirancang serupa badan pesawat yang hendak take off. Pengunjung dapat berdiri diatas dan berfoto ceria ke arah bundaran.

Sementara pada area timur akan didesain huruf bertuliskan “ENDE” mengarah ke Monumen Pancasila. Area itu sedikit membutuhkan tempat bebas, persis sudut jalan El Tari.

altFrans Lewang menjelaskan, desain itu sudah hampir rampung. Hanya beberapa yang harus diperbaiki.

Semua pembangunan dalam kota yang dirancang, terang Frans, tetap berbasis pariwisata. Sebab, Flores saat sedang gencar mempromosikan potensi pariwisata.

Selain itu, terdapat nilai historis Pancasila yang diproklamir oleh Bung Karno.

“Iya, ini merupakan implementasi membangun desa dan menata kota berbasis pariwisata serta menjaga nilai historis pancasila, mengusung ide kekokohan, wibawa, kebhinekaan dan kebangkitan serta gerbang masuk Ende,”ucap dia.

Kadis Frans memastikan, penataan kota khususnya di area lampu lima akan dilakukan tahun ini. Sedangkan anggaran yang disiapkan sebesar 4,7 Miliar untuk menata area tersebut.

Penulis dan Foto: Ian Bala (Vox NTT)

Editor: Boni J

Addthis
You are here